Kenikmatan Tidak Datang dari Kenikmatan

 


Ibn al-Qayyim rohimahulloh berkata: 

“Semua orang yang berakal dari seluruh ummat telah sepakat bahwa kenikmatan tidaklah didapat dengan kenikmatan dan barang siapa yang merasa nyaman berada dalam kenyamanan dia akan kehilangan kenyamanan, kebahagiaan dan kelezatan. 

 

Bergantung kepada besarnya masalah yang dihadapi dan kemampuan menanggung kesulitan, tidak ada kebahagiaan bagi mereka yang tidak memiliki tekad, tidak ada kelezatan bagi mereka yang tidak memiliki kesabaran, tidak ada kenikmatan bagi mereka yang tidak mau bersusah payah, dan tidak ada kenyamanan bagi mereka yang tidak mau lelah. 

 

Bahkan jika seorang hamba lelah sejenak dia akan beristirahat dalam waktu yang panjang, dan jika dia mau menanggung kesulitan untuk bersabar sesaat hal tersebut akan membawanya kepada kehidupan yang abadi, dan seluruh kenikmatan yang diperoleh oleh mereka yang mendapatkan kenikmatan abadi adalah kesabaran sesaat. 

 

Allah lah tempat meminta pertolongan dan tidak ada kekuatan kecuali atas pertolongan-Nya.” 

 

📚 Miftah Daarussa’aadah 2/15 

 

Perkataan ini menjelaskan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki tidak diperoleh dengan hidup bermalas-malasan atau selalu mengikuti kenyamanan. Dalam banyak keadaan, seseorang harus bersabar, berjuang, dan menanggung kesulitan untuk mendapatkan hasil yang baik di dunia maupun akhirat. Kesabaran dalam ketaatan, menahan hawa nafsu, dan tetap istiqamah dalam menghadapi ujian merupakan jalan menuju kenikmatan yang lebih besar. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak mudah menyerah ketika menghadapi kelelahan dan kesulitan dalam menjalani kebaikan.

Nasehat Lain
Tidak Boleh Safar dengan Niat Ibadah Kecuali ke Tiga Masjid
Tergesa-Gesa adalah Ibu dari Segala Penyesalan
Tangan dan Air Mata dalam Persaudaraan
Paket Kami
Umroh Dulu Madinah
 Saudi Airlines
Umroh Jumaadilawwal
 Saudi Airlines
Umroh Dulu Madinah
 Saudi Airlines
Umroh Akhir Tahun
 Garuda Indonesia