Mati, Dibangkitkan dan Dihisab Sendiri
Berkata Al-Hasan al-Basri rohimahulloh:
“Wahai Bani Adam, sesungguhnya engkau akan mati sendiri, akan dibangkitkan sendiri dan akan dihisab sendiri.
Wahai Bani Adam, andai saja seluruh manusia ta’at kepada Allah dan hanya engkau yang bermaksiat kepada-Nya, sesungguhnya keta’atan mereka tidak akan bermanfa’at untukmu.
Andai saja seluruh manusia bermaksiat kepada Allah dan hanya engkau yang ta’at kepada-Nya, sesungguhnya kemaksiatan mereka tidak akan memudhorotkanmu.
Wahai Bani Adam, agamamu adalah agamamu, sesungguhnya dia adalah darah dan dagingmu. Jika selamat agamamu maka darah dan dagingmu akan selamat. Jika tidak, maka mohonlah perlindungan kepada Allah, karena (di hari kiamat kelak) ada api yang tidak akan pernah padam, tubuh yang tidak akan pernah musnah, dan jiwa yang tidak akan pernah mati.”
Aadab Alhasan Albashri wa Zuhdihi wa Mawaa’idzihi, Ibnul Jauzi, hal. 127
Perkataan ini mengingatkan bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri di hadapan Allah. Karena itu, seorang muslim tidak boleh merasa aman hanya karena berada di lingkungan orang-orang saleh, dan tidak boleh putus asa ketika berada di tengah banyaknya kemaksiatan.
Keselamatan seorang hamba terletak pada keselamatan agamanya. Maka, menjaga iman, ketaatan, dan hubungan dengan Allah adalah perkara yang sangat penting, karena setiap manusia akan menghadapi kematian, kebangkitan, dan hisab seorang diri.

