Pujian dan Celaan Manusia
Berkata Maalik Ibn Diinar rohimahulloh:
“Sejak saya mengenal manusia, saya tidak berbahagia dengan pujian mereka, dan tidak membenci celaan mereka, karena pujian dan celaan mereka selalu berlebihan (tidak sesuai dengan kenyataan).”
Siyar a’laaminnubalaa (5/362)
Perkataan ini mengajarkan agar seorang muslim tidak terlalu bergantung kepada penilaian manusia. Pujian terkadang membuat seseorang lalai dan merasa tinggi, sementara celaan dapat membuat hati mudah goyah jika terlalu dipikirkan.
Karena itu, yang lebih penting adalah berusaha memperbaiki diri dan menjaga keikhlasan dalam beramal. Selama seseorang berada di atas kebaikan dan kebenaran, maka pujian maupun celaan manusia tidak seharusnya menjadi ukuran utama.
Nasehat Lain
Tidak Boleh Safar dengan Niat Ibadah Kecuali ke Tiga Masjid
Tergesa-Gesa adalah Ibu dari Segala Penyesalan
Tangan dan Air Mata dalam Persaudaraan

