
orang yang mendalam ilmu dalam Tafsir Imam Al-Baghowi
Alimaam Al-Baghowi menafsirkan firman Allah dalam Q.S Ali Imran ayat 7:
وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ
“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka berkata: Kami beriman kepada-Nya (ayat-ayat musytabihaat).”
Dalam ayat ini, orang yang mendalam ilmu digambarkan sebagai mereka yang tetap beriman kepada Allah ketika menghadapi ayat-ayat yang tidak mudah dipahami. Mereka tidak tergesa-gesa dalam memahami sesuatu tanpa ilmu, tetapi tetap menyerahkan kepada Allah dengan sikap iman yang kuat.
Imam Al-Baghowi Al-Baghawi menjelaskan bahwa “arroosikh fil ‘ilm” adalah orang-orang yang memiliki empat sifat utama dalam ilmunya:
- Ketaqwaan antara dirinya dan Allah
- Kerendahan hati kepada sesama makhluk
- Zuhud terhadap dunia
- Kesungguhan dalam melawan hawa nafsu dirinya sendiri
Tafsir Al-Baghowi (1/325)
Dari penjelasan ini, orang yang mendalam ilmu tidak diukur hanya dari banyaknya hafalan atau penguasaan dalil, tetapi dari dampak ilmunya terhadap akhlak dan hati. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan kepada Allah, bukan kesombongan.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mendalam ilmunya akan terlihat dari sikapnya: semakin berilmu semakin rendah hati, semakin takut kepada Allah, dan semakin menjauh dari cinta dunia yang berlebihan.
Para ulama salaf adalah contoh nyata dari orang yang mendalam ilmu. Mereka tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mengamalkannya dengan penuh adab dan ketawadhuan. Imam Al-Baghowi sendiri menulis tafsir dengan keikhlasan dan kerendahan hati, sehingga ilmunya terus bermanfaat hingga hari ini.
Karena itu, setiap penuntut ilmu perlu mengoreksi dirinya: apakah ilmu yang dipelajari sudah benar-benar mendekatkan kepada Allah, atau hanya menambah wawasan tanpa mengubah hati.

